Ronin Warrior


Selamat pagi anak-anak, kali ini saya akan membahas tentang minat belajar.

Saya dan rekan-rekan plurker kemaren mengadakan minigathering (kumpulan orang-orang mini) di Amplaz hari sabtu siang atas prakarsa anggota kami yang termuda yaitu @widy_agung yang terhormat *makasih mie tomyamnya ya*. Kami (@fajarsaptono, @widy_agung, @yoyoimut dan saya sendiri – @naphi), setelah berkenalan singkat dan menanyakan latar belakang pendidikan secara informal, terlibat sebuah pembicaraan tentang dunia pendidikan disambi menghisap es coklat dan melihat mbak Titi DJ dan Aming jumpa fans.

 

dari kiri: @yoyo_imut, @fajarsaptono, @naphi, @widy_agung
dari kiri: @yoyo_imut, @fajarsaptono, @naphi, @widy_agung

 

Kami coba membandingkan bagaimana sih bedanya pendidikan di Indonesia dengan pendidikan yang dikelola di Jepang sana (mas @yoyo_imut kuliah di sono). Mulai dari hal-hal formil sampai pada hal yang bersifat sepele, misalnya tingkat keterbukaan informasi (baca: pornogra*i) di tirai bambu negeri Sakura tersebut *lirik @dianfar*. Nah, setelah ngobrol tentang salah satu judul melodrama jepang terkenal dengan judul (sensor), disitu kita menemukan perbedaan yang mendasar yang tidak dimiliki oleh anak-anak Indonesia dibandingkan anak-anak di Jepang sana.

1. Ronin.

Ronin adalah sebutan bagi Samurai tanpa Tuan atau samurai tak bertuan. Terjemahan literal adalah “lelaki Ombak”. Meski telah bertahun-tahun jaman Samurai telah berlalu, namun ternyata istilah Ronin sendiri masih dipakai. Istilah ini dipakai untuk menjuluki seorang Calon Mahasiswa/lulusan SMA/SMK di jepang sana yang masih berjuang untuk bisa masuk ke sebuah Universitas.

Proses seleksi di Jepang ternyata sangatlah ketat. Calon Mahasiswa diharuskan memiliki standar nilai tertentu untuk bisa lulus. Calon mahasiswa ini bisa beberapa tahun mencoba dan mencoba untuk bisa masuk ke lingkungan kampus idaman dan berkuliah disitu.

Dengan adanya fakta tersebut, maka bisa dilogika ternyata minat belajar dan semangat juang calon mahasiswa di sana telah melalui ujian awal, bahkan sebelum masuk ke kampus yaitu: ujian masuk Universitas. Implikasinya, setelah mereka menjadi mahasiswa, maka mereka akan lebih menghargai usaha mereka sendiri dan tetap berusaha keras sampai pada masa akhir studi mereka dibandingkan dengan yang dengan mudahnya masuk ke sebuah kampus.

Sedangkan di Indonesia, yang saya ketahui dan alami, saat manusia lulusan SMA/SMK di Indonesia tidak mendapatkan universitas yang diidam-idamkan maka dia akan mencari alternatif universitas lain. Umumnya alternatif ini adalah universitas swasta yang memang sengaja membuka kesempatan bagi limpahan mahasiswa yang tidak lolos ini. Universitas atau Sekolah Tinggi ini dengan besar-besaran melakukan marketing langsung terhadap mereka melalui pembagian pamflet, pengiriman surat undangan dan menampilkan baliho besar di sekitar lingkungan kampus favorit. Selain itu, mereka juga membuka beberapa gelombang pendaftaran dan seleksi masuk yang luar biasa sering.

Ini, menurut saya akan menyebabkan calon mahasiswa ini – bila tidak bijak – akan memilih jalur yang singkat dan terkesan Instan, yaitu mendaftar ke kampus alternatif, terlepas apakah berkualitas tidak kampus tersebut. Intinya kuliah dulu, mengenai dimana itu kampusnya, nanti-nanti saja. Fenomena ini juga bisa terjadi dikarenakan rasa malu, rasa malu karena apa? rasa malu jikalau menetap di kota tujuan belajar dan tidak berkuliah maka dia akan merasa tertinggal dibandingkan teman-teman yang seangkatan dengan mereka. Hal-hal tersebut diatas diperparah dengan proses seleksi calon mahasiswa yang kurang berkualitas dan ideal.

 

hehehe.. ada aming.

 

Terus efeknya apa?

Nah, begini. Kita bahas yang mahasiswa Indonesia saja ya, soalnya mahasiswa Jepang udah beres kayaknya. Efeknya adalah, dengan mudahnya mahasiswa masuk ke kampus-kampus tersebut ditambah buruknya sanitasi eh filterisasi calon mahasiswa dan diperparah dengan kualitas dosen yang kurang sip, bisa dibayangkan kedepannya akan banyak mahasiswa ber-MUTU. lho kok bermutu? iya, MUTU alias MUka TUwa. Mahasiswa akan awet di kampus. MABA, Mahasiswa Abadi. (lol)

Mahasiswa akan mendapatkan kesulitan disebabkan karena dirinya sendiri, yaitu Minat belajar yang rendah, semangat yang kurang dan budaya serba instan serta ditambah lagi dengan faktor lingkungan, contohnya jeleknya mutu kurikulum yangย acak-acakan dan serba tidak jelas yang selama ini diambilkan dari kampus-kampus luar negeri yang mana belum tentu cocok dengan kondisi yang akan dihadapi oleh Mahasiswa di lingkungan lokal.

2. Komik

Tidak bisa dilupakan betapa besarnya peran komik bagi bangsa Jepang. Mereka terpuruk dengan serangan bom atom tahun 1945 dan mampu bangkit kembali dikarenakan oleh semangat tidak kenal lelah dan budaya bekerja keras yang ditularkan oleh komikus-komikus Jepang.

3. Terjemahan

Seperti post yang pernah saya tulis sebelumnya, bangsa Jepang adalah bangsa yang paling cepat beradaptasi dengan teknologi baru. Sebuah buku berbahasa Inggris akan secara cepat di terjemahkan menjadi buku berbahasa Jepang. Mungkin ini kecil, namun bagi bangsa Jepang ini adalah sesuatu yang penting sebab bangsa Jepang tidak atau kurang fasih dengan bahasa asing terutama bahasa Inggris.

4. Koneksi Internet

kayaknya nggak perlu penjelasan. Sakit hati nanti.

Mungkin itu untuk sementara.

Adapun untuk mengobati sakit hati, sila liat artis dibawah ini.๐Ÿ˜€

 

mbak titik, liat sini dong. *cepret*

 

 

black cunli, dan mayoret gajelas.. (lol)

 

 

mask rider??

 

 

mbak Titik lagi.๐Ÿ˜€

 

22 thoughts on “Ronin Warrior

  1. Pernah dijelasin soal koneksi internet di Jepang oleh mas Yo gk pak?
    hahaha..bener-bener sakit hati…

    tapi kalo membandingkan Jepang dengan Indonesia…mungkin terlalu banyak..cuma 1 yg sama..budaya.
    Budaya di sana mirip budaya jawa – santun, cara menghormati orang-orang yg lebih tua, dsb (secara tidak langsung influence dari sana ada, karena Jepang pernah menjajah Indonesia)

    1. ternyata mereka juga sama-sama malu pake bahasa Inggris. ingat kejadian PM jepang dulu yang dicritain mas Yo? (ngakak)

      jangan ah, saya takut ada yang menghujat menteri kemoninfo (sengaja salah ketik) lagi. Benwit tipis ada pake disaring. (lol)

  2. Kalau di Amrik banyak mhs pakai kaos-kaos dengan logo unversitas, kalau di Jepang hampir tidak ada, meskipun dia mahasiswa univ paling top.

    Untuk perusahaan terutama perusahaan besar, mereka pasti punya dana untuk RD (Research and Development). Untuk Canon Inc. 20% revenue perusahaan (dalam setahun) adalah untuk RD (2009 revenuenya USD 34b, berarti RDnya sekitar USD 6.8b=Rp 68 triliun). Hasil : Canon dan Nikon (sama2 Jepang), menguasai pangsa pasar kamera. Belum perusahaan yang berkaitan dengan image processing yang lain, yang kebanyakan pangsa pasarnya dikuasai Jepang.

    Kalau komik, sejak zaman Edo sudah ada meskipun dalam bentuk yang berbeda. Menceritakan semua segi kehidupan dengan berbagai lapisan umur. Jadinya ada banyak komik dengan segmen-segmen yang berbeda (shonen,shojo,dll).

    Koneksi internet rata-rata tercepat no 2 dunia setelah Korsel.

    ^_^

      1. Sebenarnya banyak yg meranking universitas di Jepang dari dalam negeri Jepang sendiri, dengan berbagai kategori.

        Kalau untuk science, riset dll, universitas pemerintah lebih unggul. Kalau untuk enterpreneurship, perusahaan, universitas swasta malah lebih tinggi. Karena rata2 mhs univ negeri pada lanjut ke jenjang lebih tinggi dan menguasai dunia akademik, sedangkan yg swasta menguasai industri.

        Pernah ada tulisan, CEO paling banyak di perusahaan Jepang adalah lulusan Waseda Univ (univ swasta no 2 di Jepang), sedangkan untuk politikus banyak yang dari Keio Univ (univ swasta no 1 Jepang).

        ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s