Saatnya kembali memfungsikan blog seperti tujuan awal teknologi ini, untuk menyampah menuliskan catatan harian.
Pagi ini dimulai dengan rentetan alarm disfungsional dari multiple sumber (Hape nokiyem, hape ZTE, jam meja). Seperti biasa, saya bangun beberapa menit sebelum alarm bunyi. “Dasar Gagal!”, aku bilang ke gadget abrakan lawas ga jelas itu. Mereka pun senyap, diam tak membalas. Aku rasa, kalaupun mereka bisa ngomong balik aku tahu apa yang bakal mereka omongin, “Siapa dulu yang punya” sambil pasang muka annoyed.
Pagi itu, saya berencana ke RS. Grhasia. Bagi kalian para pendatang baru, RS Grhasia adalah sebuah tempat yang tepat sebagai bahan lelucon. Lelucon orang gila, tepatnya. Tempatnya bagus, pelayanannya cukup cepat dan parkirnya luas, tapi percayalah tempat ini adalah tempat terakhir yang kalian pengen untuk mendapatkan perawatan.
Tentu saja, makanan harus masuk nih ke posting, se-ca-ra : Foodaholic. Sarapan di ‘Soto Sorgap’ masuk akal. Soto pisah, mendoan 4 keping + es teh segelas cukuplah. Sorgap nggak punya speciality memang, tapi tempat sarapan favoritku dulu adalah disitu. Berlokasi di Jakal km 12,5 dibawah gapura (sorgap = ngisor gapuro). Setelah merasa cukup, lanjut jalan.
Lumayan kaget juga, melihat kemajuan kawasan Kampus UII atas. Sudah banyak penjual makanan, waserba modern dan juga kos-kosan bagus. Yang paling menarik perhatianku adalah sebuah tempat yang sebelumnya adalah pool rongsokan sekarang menjadi deretan toko dan warung yang cantik dan ramai.
Tiga puluh menit perjalanan, sejak berangkat dari kos sampai RS. Perjalanan cukup nyaman, tidak ada macet dan lain sebagainya. Mungkin karena di Ulil Albab sedang ada wisuda dan mungkin juga karena kampus sekarang sudah menerapkan 5 hari kerja.
R.S Grhasia
Sampai pintu masuk RS, saya disambut alat berat. Ternyata jalan di depan RS sedang diperlebar. Saya masuk, diberikan nomer parkir dan menaruh motor disebelah utara komplek, berdekatan dengan Kantin Dharma Wanita RS setempat. Saya lihat tanda bertuliskan Pendaftaran mengarah ke gedung utama, saya ikuti. Tidak lama kemudian saya mulai mendaftar.
Gedung RS terkesan baru dan luas. Mungkin adalah komplek RS Jiwa yang terbesar menurut saya, terdapat komplek perumahan Dokter/karyawan di sayap selatan dan memiliki gedung kantin serta koperasi pada bagian utara. Bahkan RS ini memiliki unit gawat Darurat darurat sendiri. Kira-kira untuk pasien yang kayak apa ya? (thinking)
Gedung utama adalah yang paling tengah. Saya ke meja resepsionis. Sempat kaget melihat formulir yang disodorkan Front Officer RS. Pada formulir tertulis “Pendaftaran Pasien Baru R.S Jiwa Grhasia”. Baiklah, saya bakal resmi terdaftar sebagai pasien di R.S Jiwa seusai mengisi form. Dan setelah sekian lama gila tanpa status, akhirnya. (doh)
The Test
Tanpa antri, saya diminta untuk menjalani tes di Klinik Jiwa. Disana, saya diminta untuk menjawab kurang lebih 556 soal. Bukan soal yang susah sih, tapi orang waras pun akan menjadi gila dengan pertanyaan sebanyak itu. Pertanyaan-pertanyaan berkisar pada pertanyaan pribadi dan open. Ada beberapa pertanyaan menarik. “Anda menikmati kehidupan seks Anda?”, “Menyesalkah anda dengan jenis kelamin anda saat ini?” dan “apakah anda pernah menginginkan jemuran pakaian dalam orang lain, dan ingin mengambilnya meskipun tidak akan memakainya?” serta “apakah anda Gay?” adalah beberapa diantaranya. Enggak, saya nggak akan tulis jawaban saya disini – jika itu yang kalian pikirkan (unsure) dan saya bercanda tentang pertanyaan yang terakhir.
Hal yang mengganggu saya adalah, diskriminasi. Iya, bersama saya saat itu ada peserta satu lagi sedang mencari hal yang sama namun berbeda tujuan lamaran. Bapak itu, mencoba ikut pemilihan kepala dukuh. Yang bikin saya kaget, rangkaian soal yang diberikan ke saya jauh lebih banyak dan susah dibanding dengan bapaknya itu. Apa sih dasarnya? emang dukuh ga butuh orang yang warasnya sama dengan pengajar? (unsure)
Tahun lalu, saya sempat mengurus surat keterangan sehat Rohani/Jiwa tempat yang berbeda, yaitu di RSUP. Dr. Sardjito. Sejauh info yang saya dapat, surat keterangan Sehat kejiwaan hanya dilayani di dua tempat. RSUP & RSJ Grhasia. Bagi kalian yang ingin mengurus S.K sehat jasmani dan S.K bebas Narkoba, RSJ juga melayani. Sedangkan RS punya UII – RS Jogja International Hospital, belum bisa melayani S.K Rohani – tapi kalau mau garlic bread atau tempura chicken ada tuh *lost focus*. Mungkin karena international kali ya? watehek.
Saya kurang tahu pelayanan di RSUP untuk jasa perawatan dan lainnya. Tapi untuk pelayanan pembuatan S.K Sehat Jiwa, sangat kurang. Pelayanan berkesan membingungkan dan kita harus ikut menunggu bersama pasien lain di sana, dan tentunya hal tersebut memakan banyak waktu. Biaya pengurusan juga lebih murah sedikit di RSJ Grhasia dibanding RSUP.
Kepengurusan S.K saya selesai jam pada 12.30 WIB. Waktu pengurusan yang masuk akal, dan saya masih punya banyak waktu untuk kegiatan lain lagi. Plurking misalnya. (ninja)
Sebelum makan siang, saya menyempatkan untuk ganti kunci motor di kios teman saya. Ternyata tempatnya sudah pindah, terlalu mahal temen saya bilang. Kunci motor berhasil diduplikat, sudah beres bayar 8 ribu perak kemudian lanjut jalan.
Stop terakhir adalah makan siang. Saya putuskan untuk beli nasgor di Warung Bu Yuli, samping rumah basecamp Montir99 (angkatan senior saya). Perjalanan pulang, agak sedikit terganggu dengan traffic rombongan wisuda yang turun ke bawah.
Terima kasih atas kunjungannya.
Blognya bagus, ya
Iya, sama-sama mas. Makasih juga untuk kunjungannya dimari.
Ini juga masih belajar nulis kok.
Terima kasih atas penilaianya. Salam buat Dira dan Hanafi
sampai dua kali posting.. hehe.
apik…apik…apik…